Postingan

Meracik bumbu, Merilis stress

Ada hari-hari di mana isi kepala terlalu bising dengan target, ekspektasi, dan akumulasi stres yang tidak kasat mata. Seperti beberapa hari ini, rasanya penat, lelah dan entah perasaan apa lagi itu .  kapasitas kognitif mulai menemui titik jenuhnya, melarikan diri ke dalam deretan teks atau analisis digital sering kali justru memperkeruh suasana. Saya sudah Mencoba menuangkannya dalam deretan teks , menari di atas keybord tapi rasanya malah menghadirkan tanya dan takut yang entah kapan ada jawabannya .. Akhirnya hari ini,  Di momen seperti itu, saya memilih berjalan ke dapur, menyalakan lampu, dan mengambil talenan. Malam ini, terapi psikologis tidak datang dari ruang konseling atau buku-buku teoretis seperti biasa, melainkan dari sebuah ritual sederhana: meracik bumbu masakan. Dimulai dari kulit bawang yang mengelupas satu demi satu di bawah jemari.  Ada kepuasan tersendiri yang sunyi saat melihat lapisan luar yang kering itu terbuang, menyisakan bagian inti yang bersih ...

Membaca yang Tersirat di Sela Sesapan Kopi

 Sore Hari... Diantara langit yang meremang karena awan yang mulai menutup sang Cahaya. Duduk dipojokan, menghadap laptop, jari jemari asyik menari di tuts keyboard, seakan menuangkan gundah di kepala. Saya seorang penikmat butterscoth, selain cappucino. Belakangan ini, saya sedang jatuh cinta pada segelas es kopi yang saya minum saat rasa lelah setelah aktivitas seharian.  ah, tentu bukan karena kafeinnya yang ampuh menahan kantuk, bukan.. karena kafein mengantarkan saya tertidur dengan pulas hehehe. Jatuh cinta karena rasa yang bekerja di lidah. Sensasi aneh namun memikat ditiap sesapannya.  Sesapan pertama, rasa manis karamel yang pekat menyambutnya dengan brutal, ah terlalu manis respon pertama. Namun, sedetik kemudian rasa gurih asin dari mentega yang tipis mulai datang dan turut menyambut dan di akhiri pahitnya espresso yang menutup tarian rasa di kerongkongan.  Aneh, ya pasti aneh.. Tiga rasa yang saling berbeda, cenderung bertolak belakang, namun ketika dipad...

Logika Rasa Dalam Lingkar Sosial

Gambar
Tidak dapat kita pungkiri,  era digital saat ini, memudahkan kita memiliki ratusan "teman" di media sosial. Ikut sebuah kumpul-kumpul lalu saling tukar akun sosmed, follow dan jadi teman. Semudah klik tapi tidak sepenuhnya klik.. Ups, maksudnya... Gini- gini...  Kita seolah tahu siapa mereka hanya dari postingan yang seliweran di media sosial bukan. Kita tahu apa yang mereka makan siang ini,  kita tahu ke mana mereka berlibur,  bahkan kita juga bisa tahu opini mereka tentang isu terhangat.  Namun, pernahkah kamu mendapati diri kamu sendiri berada di tengah keramaian terasa sepi ? atau kamu sedang menatap layar ponsel yang penuh notifikasi,  lalu tiba-tiba tertegun dan bertanya: apa ini? “Dari semua orang ini, siapa yang benar-benar teman saya?” No.. no... jangan buru-buru membaca pertanyaan tersebut dengan nada sinis..  Saya menulis ini juga sebagai sebuah refleksi diri, saat saya galau gundah gulana, patah hati dan menangis merutuki ini.  Setelah...

Sinyal : Kamu sedang jatuh Cinta atau Sedang Candu ?

Gambar
 Sebelum menuliskan Pov saya,... mari Kita simak lagu ini dulu... Sinyal-sinyal darimu tak jelas Atau mungkin aku kurang cerdas Kadang rasanya seperti Tak ada batas antara kita Kadang seolah tak saling kenal Hmm.... bukan -bukan gak cerdas loh, tapi bisa jadi itu adalah boundaries yang dibangun.. Kita tidak pernah tahu bukan..  Lagu, "Sinyal" , berhasil memotret fenomena yang sangat manusiawi: "rasa lelah karena harus menebak-nebak posisi kita di hati seseorang". Eh tunggu dulu, kalau kita bedah lebih dalam menggunakan teori Interaksionisme Simbolik , lagu ini sebenarnya bukan sekadar tentang cinta bertepuk sebelah tangan. I ni adalah tentang bagaimana kita tersesat dalam simbol yang kita ciptakan sendiri... kita masuk dalam labirin sinyal yang kita buat sendiri. Seperti labirin kita keliling-keliling namun tak menemukan ujungnya.. ah sudah terbayangkan betapa lelahnya itu... Pahamkan, ilustrasi diatas... lelah, dan memilih menyerah... ah tentu capek, menebak apa ...