Postingan

Di Antara Detik yang Terlambat dan Jejak yang Tinggal

Ada stereotip yang melekat banget sama kita yang berzodiak Virgo "kamu terlalu analitis, perfeksionis, dan suka tenggelam dalam detail-detail kecil yang kadang enggak kelihatan sama orang lain".  Tapi jujur saja, di tengah tumpukan rencana dan isi kepala yang sering sibuk sendiri ini, deretan ucapan serta doa di hari ulang tahun yang masuk adalah detail paling manis yang berhasil menghentikan ritme hari saya. Saya bisa tersenyum, tertegun beberapa detik, bahkan saya bisa mangap saking gak terduganya.  Sunggug manis bukan...  Terima kasih banyak, ya.  Beberapa hari sebelum ultah, saya sdh mematikan informasi birthday dr medsos ..  Sampe siang haripun semua aman, tak ada yg ngucapin … 😌😆 bahkan bocilpun lupa .. ah ternyata … seorang kawan dari Banjarmasin tetiba chat minta alamat rumah , saya membalas alamat rumah sy di bawah langit, diatas tanah .. wkwkkw dia membalas buruan aku bisa dikejar org ya .. mau ga may alamat pun sy berikan drpd doi di teror penjual k...

Bungah Susah

 Mulur mungkret, bungah susah … Setiap kali rasa gak nyaman muncul, dada yg debarannya tidak seirama, kadang dah dig dug kayak orang kasmaran eh ga tau juga sih pokoknya kadang dah dig dug nya keras banget, tapi kadang lemah banget sampai tidak terdeteksi .. Kalau sudah seperti itu, telapak tangan, telapak kaki basah..  Kalau sudah seperti itu, nangis pun percuma .. yang bisa dilakukan pasrah menerima dan berkata “rasa ini akan berganti kok, sakitnya akan membaik, dan siklus ini akan bergulir , jika tidak berarti jatah waktu sudah habis”. Kamu gak takut ?  Bukannya semua akan pulang pada waktunya ..  awal-awal ada rasa takut tapi coba deh berdamai dengan keadaan.. semua akan jauh lebih mudah dijalani … Ya itu, mulur mungkret … bungah susah..  Kadang kita bahagia , kadang juga kita sedih .. Kadang kita sehat , kadang kita sakit ..

Sudut Favorit

Gambar
  Di Sudut yang Sama Ada satu sudut yang selalu kupilih. Bagi banyak orang, sudut itu mungkin tak lebih dari deretan kursi di depan sebuah ruangan. Tempat untuk menunggu, beristirahat sejenak, atau sekadar lewat sebelum melanjutkan kesibukan. Bagiku, sudut itu selalu lebih dari itu. Jauh sebelum ada cerita apa pun.  Sebelum ada satu pagi yang kemudian diam-diam menetap dalam ingatan.  Sudut itu sudah menjadi tempat favoritku. Bukan karena letaknya paling sempurna, melainkan karena di sana aku merasa dunia berjalan sedikit lebih pelan. Beberapa waktu lalu, pagi itu berjalan sedikit berbeda.Bukan karena ada peristiwa besar.  Tidak ada yang luar biasa. Hanya sebuah percakapan, diselingi tawa yang ringan, dan satu kalimat yang hingga hari ini masih bisa mengundang senyum setiap kali mengingatnya. Lucunya, kenangan sering memilih hal-hal yang tampak sepele. Bukan topik pembicaraannya yang ingat dengan utuh, melainkan suasana yang mengitarinya.  Cara pagi itu terasa b...

Jangan Tergesa Menamai Kedekatan

Gambar
  Malam hari, ditemani lagu Kunto aji yang berjudul "Rehat", Segelas teh hangat dan sepotong cookies buatan pagi hari.  Akhirnya menuliskan opini mengenai ini, "biarkan semesta bekerja".  Pernahkah kamu bertemu seseorang yang dalam waktu singkat terasa begitu dekat? Percakapan mengalir tanpa jeda, tatapan mata terasa penuh makna, dan diskusi melompat dari hal-hal sederhana menuju topik yang sangat personal atau bahkan filosofis bermakna.... Sepertinya, pada saat itu, muncul perasaan bahwa ada sesuatu yang istimewa sedang terjadi, sebuah koneksi yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. sebelum membaca detail,. sedikit imajinasinya ... Hasil Generate Ai yak...  Seperti itulah...  Namun, beberapa hari kemudian semuanya kembali seperti semula. Tidak ada pesan lanjutan, tidak ada upaya menjaga hubungan, bahkan seolah-olah momen yang terasa begitu dalam itu tidak pernah ada. Yang tersisa hanyalah pertanyaan: Apakah kedekatan itu benar-benar nyata, atau hanya saya yang ...

Racun Kognitif dibalik "Londo Ireng"

Gambar
Hay... Im Back....  Gemeeees,.. udah beberapa hari ini kepikiran dengan kata-kata yang terlontar dari sang penguasa.  Ijinkan saya bersuara melalui tulisan ini... Ketika seorang pemimpin negara atau elit kekuasaan melemparkan sebutan "londo ireng" untuk melabeli wartawan dan media massa, ruang publik kita seketika bising.  Mari kita tengok, secara historis frasa "londo ireng" menyisakan trauma kolonial. Seringkali di artikan sebagai sebuah ejekan pejoratif bagi kaum pribumi yang menjadi centeng atau antek penjajah.  Namun, ketika istilah ini ditarik ke panggung politik modern untuk mengomentari kerja-kerja pers, kita tidak sedang menyaksikan sekadar retorika atau gaya bahasa politik yang bernada humor, namun syarat yaaa gitulah.  Sebagai seseorang yang mengawali karier dari bangku kuliah jurnalistik dan pernah berdiri di depan kelas sebagai dosen jurnalistik.  Saya melihat fenomena ini bukan sekadar dinamika politik biasa, melainkan serangan psikologis yan...