Mengaduk Cemas, Menyeduh Jeda: Refleksi Pengingat dari Tulus
Malam hari, saat membuka WhatsApp, tetiba terdengar sayup-sayup lagu Tulus berjudul "Teh Hijau". Seketika saya bergumam dalam hati: Hmm... sepertinya memang ada yang hilang. Ada yang kurang, atau mungkin ada yang kosong. Sparks itu menguap begitu saja, tapi entah sejak kapan. Mungkin semua ini bermula sejak dunia menuntut kita untuk serba cepat, serba produktif, dan serba "jadi". Tuntutan-tuntutan itu perlahan merenggut ketenangan kita. Matur nuwun, Tulus. Lagumu bukan cuma sekadar barisan nada, melainkan sebuah pengingat lembut bahwa hidup ini bukanlah perlombaan lari cepat. Kadang, kita hanya perlu duduk, menyeduh waktu, dan menikmati rasanya. Ya, hanya kadang. Karena di era sekarang, momen "kadang" ini telah menjelma menjadi sebuah kemewahan yang mahal. Berapa kali perasaan lelah dan terburu-buru ini muncul dalam hidup kita? Sering kali kita merasa berdosa kalau tidak melakukan apa-apa. "Aduh, hari ini aku produktif gak ya?" atau "Kok ora...